METROINFONEWS.CO |Makassar, Sulawesi Selatan -Travel Risma memberikan klarifikasi terkait pemberangkatan dan pemulangan jamaah haji yang sempat menjadi sorotan publik. Dalam pernyataan resmi yang diterbitkan, pihak travel membantah klaim yang menyebutkan adanya penelantaran jamaah haji, sebagaimana yang beredar di media sosial dan berbagai unggahan video.
Perwakilan Travel Risma menegaskan bahwa tidak ada jamaah yang dibiarkan terlantar. “Biasanya kalau dikatakan terlantar, itu berarti tidur di bandara. Sementara, hingga saat ini jamaah kami masih ditempatkan di hotel dengan biaya yang ditanggung oleh kami,” ujarnya.(6 April 2026)
Terkait video yang menunjukkan seorang lansia yang sedang tidur, pihak Travel Risma menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi di hotel dan bukan dalam kondisi terlantar. “Ada video yang memperlihatkan orang tidur di bandara, itu bukan jamaah kami,” tegasnya.
Permasalahan bermula dari kerja sama dengan travel yang sebelumnya telah menerima dana dari jamaah. Dana yang telah disetorkan mencapai sekitar Rp480-500 juta.
Namun, karena adanya kendala dalam proses pemberangkatan, jamaah akhirnya dialihkan ke Travel Risma. “Saya hanya menerima sisa pelunasan dari sekitar 44 jamaah karena sebagian dana sudah masuk ke travel sebelumnya,” jelas perwakilan Travel Risma.
Meski demikian,Travel Risma tetap mengambil alih pemberangkatan dengan mempertimbangkan hubungan mitra serta tanggung jawab terhadap jamaah.
Sesampainya jamaah di Tanah Suci, muncul kendala besar berupa lonjakan biaya operasional yang tidak terduga.
“Setelah tiba di sana, harga-harga meningkat tajam, bahkan sampai tiga kali lipat, termasuk biaya hotel, transportasi, dan tiket pesawat,” ungkap
perwakilan Travel Risma.
Biaya tiket pesawat yang melonjak tajam menjadi masalah tambahan, dengan harga yang dapat mencapai Rp15 juta hingga Rp21 juta per orang dan ketersediaan kursi yang sangat terbatas.
Pihak Travel Risma menegaskan bahwa pemulangan jamaah tetap dilakukan, meskipun dengan jadwal bertahap yang disesuaikan dengan ketersediaan tiket pesawat.
9 jamaah telah dipulangkan lebih awal.
20 jamaah dijadwalkan pulang pada 7 April.
8 jamaah dijadwalkan pulang pada 8 April.
Sisa jamaah lainnya masih menunggu jadwal berikutnya. “Kami pastikan bahwa jamaah akan dipulangkan, tetapi karena keterbatasan tiket, pemulangan dilakukan bertahap,” jelasnya.

Terkait permintaan tambahan biaya sebesar Rp5 juta kepada jamaah, pihak Travel Risma menjelaskan bahwa hal tersebut terpaksa dilakukan untuk menutupi kekurangan dana akibat lonjakan biaya yang tidak terduga. “Saya sudah mengeluarkan dana talangan yang sangat besar, bahkan melebihi kemampuan awal. Tambahan biaya ini untuk menutupi kekurangan,” ujar perwakilan Travel Risma.
Namun, pihak travel menyesalkan bahwa kebijakan tersebut justru ditafsirkan sebagai tindakan penipuan oleh sebagian pihak. “Kami tidak pernah berniat untuk merugikan jamaah, kami hanya berusaha untuk menutupi biaya yang melonjak.”
Pihak Travel Risma juga memastikan bahwa mereka tetap memenuhi kebutuhan logistik jamaah, termasuk akomodasi hotel dan konsumsi selama berada di Tanah Suci.
“Kami terus membiayai kebutuhan jamaah. Bahkan, jika tidak membayar hotel selama satu hari saja di Mekkah, itu sudah sangat berisiko. Tapi kami masih terus melayani,” jelasnya.
Selain itu, disebutkan bahwa Travel Risma juga menerima bantuan konsumsi dari relasi mereka di lokasi untuk membantu mencukupi kebutuhan jamaah.
Menanggapi pemberitaan yang dinilai merugikan nama baik mereka, pihak Travel Risma menyatakan akan mengambil langkah hukum.
“Kami akan menempuh jalur hukum terkait pemberitaan yang merugikan kami dan kami juga membuka ruang komunikasi dengan pihak terkait, termasuk dengan mitra sebelumnya,” tegasnya.
Sebagai penutup, Travel Risma menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan atas situasi ini.
“Kami memohon maaf kepada semua pihak. Kami tidak menginginkan situasi ini, namun kami juga meminta agar informasi yang disampaikan ke publik dijaga agar tidak merugikan nama baik kami,” ungkap perwakilan Travel Risma.
Dengan klarifikasi ini, diharapkan polemik terkait pemberangkatan dan pemulangan jamaah haji dapat diselesaikan secara transparan dan tidak menambah keresahan di masyarakat.(SS)
