METROINFONEWS.CO |GOWA – Keputusan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang mengempiskan bendung karet di Sungai Jeneberang untuk kepentingan pemasangan alat ukur Peyscal berdampak serius terhadap pelayanan air bersih di Kabupaten Gowa.
Akibatnya, Perumda Air Minum Tirta Jeneberang kehilangan sekitar 80 persen pasokan air baku dan terpaksa menghentikan operasional sebagian instalasi pengolahan air.
Kondisi tersebut menyebabkan sedikitnya 20.000 Sambungan Rumah (SR) di wilayah Kota Sungguminasa dan sekitarnya mengalami gangguan distribusi air bersih.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, pemasangan alat ukur Peyscal dilakukan dengan cara mengempiskan bendung karet agar dasar sungai dalam kondisi surut sehingga proses pemasangan skala elevasi air dapat dilakukan secara presisi. Alat tersebut berfungsi untuk mengukur tinggi muka air serta menghitung debit aliran sungai secara manual.
Namun, proses teknis tersebut mengakibatkan air yang selama ini tertahan bendung langsung mengalir ke hilir. Dampaknya, permukaan air di area intake Instalasi Pengolahan Air (IPA) turun drastis sehingga sumur pengambilan air baku milik Perumda berada di atas permukaan air dan tidak lagi dapat beroperasi secara normal.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Jeneberang Kabupaten Gowa, Irianto Razak SE,MMÂ menjelaskan bahwa pengerjaan oleh pihak BBWS telah berlangsung sejak Rabu (29/7/2026) dan berdampak langsung terhadap operasional perusahaan.
“Pihak balai memasang alat ukur Peyscal di dasar Sungai Jeneberang sehingga bendung karet harus dikempiskan terlebih dahulu. Dampaknya sangat besar karena pasokan air baku turun hingga 80 persen. Akibatnya pompa kami terpaksa dimatikan karena posisi sumur intake menggantung,” ujar Irianto Razak SE,MM, Kamis (30/7/2026).
Ia mengungkapkan, kapasitas produksi air bersih yang sebelumnya mencapai sekitar 200 liter per detik kini hanya mampu beroperasi sekitar 100 liter per detik.
Bahkan, satu unit Instalasi Pengolahan Air di IPA Pandang-pandang berhenti beroperasi total, sementara dua unit lainnya mengalami penurunan produksi hingga sekitar 70 persen. Kondisi serupa juga terjadi di Instalasi Kota Kecamatan (IKK) Barombong yang ikut mengalami penurunan kapasitas produksi.
Mengantisipasi meluasnya dampak terhadap masyarakat, Perumda Tirta Jeneberang langsung menerapkan langkah-langkah darurat dengan menyiagakan tiga unit mobil tangki untuk menyuplai kebutuhan air bersih kepada pelanggan di wilayah terdampak.Tiga wilayah layanan yang terganggu yaitu Wilayah Somba opu dan barombong pallangga.
Selain itu, koordinasi juga telah dilakukan dengan pengelola Bendungan Bili-Bili agar dilakukan penambahan bukaan air guna membantu memulihkan debit air baku di Sungai Jeneberang.
“Untuk pelayanan kepada masyarakat, kami menyiagakan tiga mobil tangki. Kami juga telah berkoordinasi dengan pihak Bendungan Bili-Bili agar bukaan air dapat ditambah sehingga kondisi air baku kembali normal,” tambahnya.
Sebagai langkah penanganan sementara, Perumda juga memaksimalkan pengambilan air baku dari Instalasi Kota Kecamatan (IKK) Borongloe guna menjaga kontinuitas pelayanan kepada pelanggan.
Irianto Razak SE,MM menegaskan, pihaknya telah melaporkan kondisi krisis air baku tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Gowa mengingat besarnya dampak yang dirasakan masyarakat.
Perumda berharap koordinasi antarlembaga dalam pelaksanaan pekerjaan teknis di kawasan Sungai Jeneberang ke depan dapat dilakukan lebih baik agar pelayanan publik, khususnya kebutuhan air bersih masyarakat, tidak kembali terganggu.(**)red/SS.
