METROINFONEWS.CO | LANGSA ACEH – Tragedi pohon tumbang di ruas jalan nasional Gampong Batee Puteh, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa kembali membuka borok kelalaian yang selama ini seolah dibiarkan. Kali ini, korban bukan sekadar pengguna jalan biasa, melainkan seorang ibu janda, bernama, Nurul Hatun Nufus, warga Gampong Kapa, Kecamatan Langsa Timur, Kota Langsa. Manafkahi Empat orang anak yatim yang kini harus menanggung luka fisik dan beban hidup tanpa kepastian bantuan dari pemerintah.
Insiden ini terjadi di jalur vital penghubung antar Provinsi pada hari Jumat 3 April 2026 bekisar Pukul.17.00 Wib tepatnya di depan Sekolah SMA Negri 2 Langsa. Yang seharusnya menjadi jalur aman, bukan ladang maut. Namun kenyataannya, kondisi di lapangan justru menunjukkan pembiaran yang mengkhawatirkan.
Pohon besar yang tumbang diduga kuat dalam kondisi lapuk dan tidak pernah mendapat perawatan serius dari pihak Dinas terkait.

Warga pun geram. Mereka menilai kejadian ini bukan lagi kecelakaan biasa, melainkan akibat kelalaian yang terus berulang.
“Ini bukan pertama kali. Kami sudah lama was-was tiap melintas, apalagi saat angin kencang. Tapi seperti tidak ada yang peduli,” tegas seorang warga, Bahrum dengan nada kesal.
Korban dilaporkan mengalami luka-luka dan sakit dibagian kepala akibat tertimpa potoh tumbang tersebut dan harus menjalani perawatan medis, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Langs. Ironisnya, hingga saat ini belum terlihat langkah nyata dari pemerintah, baik dalam bentuk bantuan kepada korban maupun tindakan pencegahan di lokasi yang jelas-jelas rawan.
Situasi ini memicu kemarahan publik. Warga menilai pemerintah terkesan menunggu korban berikutnya sebelum bertindak. Padahal, potensi bahaya sudah jelas terlihat di sepanjang jalan nasional tersebut.
Desakan pun menguat. Pemerintah Kota Langsa, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat bersama instansi terkait dituntut untuk tidak lagi berdiam diri dan segera mengambil langkah konkret.
Melakukan pendataan menyeluruh terhadap pohon-pohon rawan tumbang.
Melakukan pemangkasan hingga penebangan pohon berisiko tinggi.
Memasang rambu peringatan di titik-titik rawan.
Memberikan bantuan nyata kepada korban yang terdampak.
Jika pembiaran ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin tragedi serupa akan kembali terjadi dengan korban yang lebih parah.
Jalan nasional bukan sekadar jalur lalu lintas ini adalah urat nadi kehidupan masyarakat. Ketika keselamatannya diabaikan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan, tetapi nyawa manusia.
Peristiwa ini adalah alarm keras dan jika masih diabaikan, maka publik berhak mempertanyakan, di mana sebenarnya tanggung jawab pemerintah? (DANTON) Kaperwil Aceh
