METROINFONEWS.CO | JAKARTA – Sosok politik Aceh, H. Sudirman (Haji Uma), dipercaya menjadi dosen praktisi pada mata kuliah Politik Lokal dan Pemilu di Fakultas Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS), Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Kehadiran Haji Uma di ruang kuliah menjadi bagian dari upaya kampus menghadirkan pengalaman nyata dari pelaku politik ke tengah mahasiswa, sekaligus menjembatani antara teori dan praktik dalam studi ilmu politik.
Dalam suasana kelas yang interaktif, Haji Uma memaparkan dinamika politik elektoral di Aceh, dengan menyoroti dua momentum besar yakni Pemilu 2019 dan Pemilu 2024. Ia menjelaskan bahwa Aceh memiliki kekhasan tersendiri dalam sistem politik nasional, terutama dengan keberadaan partai politik lokal yang lahir dari kekhususan daerah pascaperdamaian.
“Aceh memiliki karakter politik yang berbeda dibandingkan daerah lain. Kehadiran partai lokal menjadi warna tersendiri karena memiliki basis historis dan kedekatan emosional dengan masyarakat,” ujarnya di hadapan mahasiswa.
Ia menguraikan, pada Pemilu 2019, kecenderungan politik masyarakat Aceh masih dipengaruhi faktor identitas, kedekatan dengan tokoh, serta peran elite politik. Namun, menjelang Pemilu 2024, mulai terlihat pergeseran ke arah pemilih yang lebih rasional.
Menurutnya, masyarakat kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada arahan elite, tetapi mulai mempertimbangkan program kerja serta rekam jejak kandidat. Perubahan ini juga didorong oleh semakin luasnya akses informasi, termasuk melalui media sosial.
“Sekarang ini kita melihat pemilih sudah mulai berubah. Mereka tidak lagi hanya ikut-ikutan, tetapi mulai melihat siapa kandidatnya, apa programnya, dan bagaimana kinerjanya,” kata Haji Uma.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pemetaan politik sebagai instrumen strategis dalam membaca arah dan kekuatan dalam kontestasi. Dengan pemetaan yang baik, aktor politik dapat memahami basis dukungan, karakter pemilih, hingga isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat.
Haji Uma juga mengingatkan pentingnya pemahaman politik bagi mahasiswa sebagai generasi muda. Ia menilai mahasiswa harus memiliki cara pandang kritis dan tidak hanya melihat fenomena politik dari permukaan.
Perkuliahan berlangsung dinamis dengan diskusi aktif. Mahasiswa tampak antusias mengajukan pertanyaan, khususnya terkait perubahan perilaku pemilih dan posisi partai lokal di tengah dominasi partai nasional.
Menariknya, Haji Uma bukan sosok asing bagi kampus tersebut. Ia merupakan alumni Universitas Nasional yang menempuh pendidikan S1 dan S2 di bidang Ilmu Politik. Latar belakang akademik ini memperkuat perannya dalam mengintegrasikan pendekatan teoritis dengan pengalaman praktis di dunia politik.
Dengan pengalamannya sebagai anggota DPD RI, Haji Uma dinilai memiliki kapasitas untuk memberikan perspektif komprehensif kepada mahasiswa, khususnya dalam memahami dinamika politik lokal Aceh.
Sementara itu, Sekretaris Jurusan Ilmu Politik UNAS, Rahmad Sufajar, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan Haji Uma sebagai dosen praktisi. Menurutnya, kehadiran praktisi berpengalaman sangat penting dalam memperkaya wawasan mahasiswa.
“Mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga pemahaman langsung dari pelaku politik di lapangan. Ini menjadi nilai tambah dalam proses pembelajaran,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut dan memberikan kontribusi nyata dalam mencetak generasi muda yang kritis serta mampu memahami dinamika politik, baik di tingkat lokal maupun nasional.
Kehadiran Haji Uma sebagai dosen praktisi diharapkan mampu menghadirkan wawasan yang lebih aplikatif, sekaligus memperkaya kajian akademik dengan pengalaman langsung dari dunia politik praktis—terutama dalam konteks unik politik Aceh.(DANTON) Kaperwil Aceh
