METROINFONEWS.CO |Makassar -Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Makassar menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor PT Kawasan Industri Makassar (KIMA), Jumat.13/3/2026
Aksi tersebut dipimpin oleh Jenderal Lapangan Ramadhan sebagai bentuk protes terhadap dugaan ketidaktransparanan dalam pengelolaan pendapatan kawasan industri, khususnya terkait pengelolaan air limbah perusahaan tenant serta sistem karcis masuk kendaraan di kawasan industri tersebut.
Dalam aksi itu, massa mahasiswa menyampaikan orasi secara bergantian sambil membentangkan spanduk berisi sejumlah tuntutan. Demonstrasi juga diwarnai dengan pembakaran ban bekas sebagai simbol protes terhadap dugaan maladministrasi dan potensi kebocoran anggaran dalam pengelolaan kawasan industri.
Jenderal Lapangan aksi, Ramadhan, dalam orasinya menyampaikan bahwa pihaknya menemukan sejumlah kejanggalan dalam sistem pengelolaan limbah industri serta mekanisme penarikan karcis masuk kendaraan.
“Kami menilai terdapat indikasi ketidaktransparanan dalam pengelolaan pendapatan kawasan, khususnya dari sektor pengelolaan air limbah dan karcis masuk. Kondisi ini menimbulkan dugaan adanya kebocoran anggaran, maladministrasi, bahkan indikasi praktik korupsi yang perlu ditelusuri secara serius,” ujar Ramadhan dalam orasinya.
Ia juga mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil advokasi serta penelusuran yang dilakukan oleh pihaknya, terdapat dugaan sejumlah perusahaan tenant tetap menerima tagihan pengelolaan air limbah dari pengelola kawasan, meskipun tidak ditemukan pemasangan alat pengukur debit limbah atau water meter di lokasi perusahaan tersebut.
Menurut Ramadhan, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan terkait dasar perhitungan tagihan limbah yang dibebankan kepada perusahaan tenant.
“Kami menemukan beberapa perusahaan tetap menerima tagihan pengelolaan air limbah. Namun setelah kami melakukan penelusuran di lapangan, tidak ditemukan pemasangan water meter sebagai alat ukur debit limbah. Jika tidak ada alat ukur, lalu dasar perhitungan tagihan limbah itu berasal dari mana?” kata dia.
SEMMI Makassar menilai persoalan tersebut perlu dijelaskan secara terbuka oleh pihak pengelola kawasan, mengingat pengelolaan limbah industri berkaitan dengan prinsip transparansi, tata kelola lingkungan, serta akuntabilitas pengelolaan kawasan industri.
Selain itu, massa aksi juga mendesak aparat penegak hukum untuk melakukan audit serta investigasi terhadap sistem pengelolaan pendapatan di kawasan industri tersebut.
Dalam aksi tersebut, SEMMI Makassar menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain:
-Mendesak pihak pengelola kawasan memberikan transparansi data terkait pengelolaan air limbah dan pendapatan karcis masuk kawasan industri.
-Mendesak aparat penegak hukum melakukan audit terhadap pendapatan dari pengelolaan air limbah dan karcis masuk.
-Mendesak evaluasi terhadap jajaran direksi PT Kawasan Industri Makassar terkait pengawasan pengelolaan kawasan.
-Mendesak evaluasi terhadap Kepala Divisi Pengelolaan Lingkungan PT Kawasan Industri Makassar yang dinilai bertanggung jawab terhadap sistem pengelolaan limbah kawasan.
SEMMI Makassar menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari kontrol sosial mahasiswa terhadap pengelolaan kawasan industri yang berkaitan dengan kepentingan lingkungan, transparansi pengelolaan pendapatan, serta akuntabilitas perusahaan.
Di akhir aksi, massa juga menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga terdapat keterbukaan informasi serta langkah audit yang jelas dari pihak berwenang.
“Jika tuntutan ini tidak segera mendapat respons serius, kami akan kembali melakukan aksi dengan jumlah massa yang lebih besar. Ini merupakan bentuk komitmen kami sebagai mahasiswa dalam menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap dugaan penyimpangan yang merugikan kepentingan publik,” tutup Ramadhan.(/*)Ir.T
