METROINFONEWS.CO | Bulukumba, – Sabtu 7/2/2026 – Rencana pembangunan industri petrokimia di Kabupaten Bulukumba kembali menuai kritik dari sejumlah elemen masyarakat. Mereka menilai proyek tersebut belum mampu memberikan solusi nyata terhadap persoalan ketenagakerjaan warga lokal dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan serta ekonomi jangka panjang.jumat 6 Februari 2026 Yang lalu .
Koordinator Mimbar Aksi Gerakan Perlawanan Rakyat (GPR) Bontobahari, Wa’diil, menyampaikan bahwa klaim penyerapan tenaga kerja dalam industri petrokimia perlu dikaji secara lebih objektif. Menurutnya, peningkatan jumlah tenaga kerja umumnya hanya terjadi pada fase awal pembangunan pabrik dan bersifat sementara.
“Pada tahap konstruksi memang terjadi peningkatan kebutuhan tenaga kerja. Namun setelah pabrik mulai beroperasi, jumlah pekerja yang dibutuhkan cenderung menurun drastis karena sistem produksi berbasis teknologi dan otomatisasi,” ujar Wa’diil kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa serapan tenaga kerja jangka panjang dari industri petrokimia dinilai tidak sebanding dengan ekspektasi yang disampaikan kepada publik.
Di sisi lain, Bulukumba selama ini dikenal mengandalkan sektor pariwisata berbasis alam, budaya, dan pesisir yang dinilai lebih berkelanjutan dalam menyerap tenaga kerja lokal.
“Kawasan wisata seperti Tanjung Bira telah lama menjadi sumber penghidupan masyarakat. Jika lingkungan pesisir terganggu akibat aktivitas industri, maka sektor pariwisata berisiko mengalami penurunan, yang pada akhirnya justru menghilangkan lapangan kerja yang sudah ada,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Fajri, salah satu peserta aksi. Ia menilai industri petrokimia membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian khusus yang umumnya berasal dari luar daerah.
“Masyarakat lokal berpotensi hanya terlibat pada pekerjaan berlevel rendah dan bersifat sementara. Karena itu, klaim penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar perlu dikritisi,” ujarnya.
Fajri juga menyoroti perbedaan dampak ekonomi antara industri petrokimia dan sektor pariwisata. Menurutnya, pariwisata memiliki efek berganda (multiplier effect) yang lebih luas terhadap perekonomian masyarakat.
“Usaha kecil, kerajinan lokal, kuliner, hingga transportasi rakyat tumbuh dari pariwisata. Sementara industri petrokimia cenderung bersifat tertutup dan keuntungan ekonominya lebih banyak mengalir ke korporasi besar,” jelasnya.
Gerakan Perlawanan Rakyat Bulukumba menilai bahwa pembangunan industri petrokimia perlu dikaji ulang secara menyeluruh, khususnya terkait dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi jangka panjang. Mereka mendorong model pembangunan yang dinilai lebih selaras dengan karakter wilayah Bulukumba.
“Pembangunan seharusnya menjaga keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan budaya. Bulukumba membutuhkan arah pembangunan yang berkelanjutan dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas,” tegas Wa’diil.(/**)red editor :SS
